INGATLAH ISTRI LOT

LUKAS 17:20-37

Shalom,
Seandainya saya bertanya kepada anda, pengajaran apa yang anda sukai di dalam Alkitab? Maka jawaban setiap orang pasti berbeda-beda atau bahkan ada yang mungkin sama (silahkan dijawab dalam hati masing-masing). Demikian juga setiap gereja, mengajarkan atau menyampaikan kepada jemaat Tuhan sesuai dengan visi misi gereja tersebut. Namun yang pasti adalah, bahwa setiap apa yang tertulis dalam Alkitab harus diajarkan secara utuh dan benar oleh gereja kepada umatNya. Bukan maksud saya lebih menekan pengajaran yang satu namun ‘meniadakan’ atau melemahkan pengajaran yang lain (Dalam Alkitab).
Gembala Pembina kita (Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo) dituntun oleh Tuhan bukan sekedar menggembalakan dan membawa jiwa-jiwa kepada Tuhan, namun lebih dari itu, bagaimana jiwa-jiwa yang dilayaninya menjadi umat yang layak bagi Tuhan, yaitu umat yang layak masuk Sorga. Seperti kita ketahui bahwa tidak semua orang Kristen (bhakan orang yang percaya Yesus sekalipun) akan masuk Sorga. Kok bisa? Bukannya Yohanes 3:16 menyatakan bahwa barangsiapa yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yg kekal?? Mungkin ada beberapa diantara anda bertanya seperti itu. Mari saya jelaskan secara singkat. Semoga dua (2) penjelasan ini cukup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi:
1. Memang benar bahwa barangsiapa yang percaya kepada Yesus tidak akan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Namun ini bagi orang yang mempertahankan kepercayaannya kepada Yesus hingga akhir (Sampai orang tersebut mati atau rapture). Karena setiap orang tidak hanya dituntut untuk sekedar ‘percaya kemudian selamat’ namun bagaimana orang yang percaya itu mengerjakan keselamatan yang Tuhan berikan kepadanya. Contoh: banyak orang percaya kepada Yesus, namun tetap melakukan dosa. Mungkin orang tersebut minta ampun sama Tuhan, Tuhan pasti ampuni. Namun jika tetap melakukan dosa itu atau dosa lain…ya sama aja, orang tersebut menjadi umat yang tidak layak masuk Sorga.
2. Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa bukan orang yang berseru kepada Tuhan (orang yang percaya Tuhan) yang masuk ke dalam Sorga. Melainkan orang yang percaya Tuhan dan melakukan segala kehendakNya (Matius 7:21-23). Ayat ini menjadi momok yang ‘menakutkan’, namun menjadi kebenaran yang hakiki yang perlu dipahami oleh setiap orang percaya.
Lalu, apa hubungannya dengan tema diatas??
Sebelumnya, saya jelaskan dahulu mengenai konteks atau cerita yang sedang dibicarakan oleh perikop itu (Lukas 17:20-37).
Perikop ini menceritakan bagaimana Yesus sedang menjelaskan mengenai “Kedatangan Kerajaan Allah” kepada orang-orang Farisi yang bertanya kepada Yesus mengenai kapan Kerajaan Allah akan datang. Hebatnya, jawaban Yesus bukan sekedar memberi jawab kepada orang-orang Farisi melainkan juga berisi perintah kepada murid-muridNya “Bilamana Kerajaan Allah” itu akan datang. Saya percaya, perintah itu juga kepada kita para pembaca (pengikut Yesus). Kemudian Yesus menjelaskan bahwa KedatanganNya seperti apa yang terjadi pada zaman Nuh dan zaman Lot dengan Sodom dan Gomora-nya.
Namun yang membuat cerita ini sangat menarik adalah, bahwa Yesus memberi perintah diayat 32 yaitu, “ingatlah akan istri Lot”. Ditengah-tengah Yesus sedang menjelaskan tentang Kedatangan Kerajaan Allah, yang dikaitkan kepada 2 zaman, yaitu zaman Nuh dan zaman Lot, Ia memberikan perintah “Ingatlah akan istri Lot”.
Jadi, saya memohon maaf kepada para pembaca, dalam artikel atau renungan ini saya tidak sedang menjelaskan apa kaitan zaman Nuh dan zaman Lot dengan Kedatangan Kerajaan Allah (karena membutuhkan penjelasan yang lebih panjang lagi – semoga dilain waktu), namun yang ingin saya tekankan (untuk memfokuskan tema yang sedang saya angkat untuk kita pahami dan renungkan) adalah perintah Allah mengenai “Ingatlah akan istri Lot” dalam kaitannya dengan Kedatangan Kerajaan Allah.
Mari kita masuk kepada pembahasan mengenai tema dalam artikel ini “Ingatlah akan istri Lot”.
Ayat ini (Lukas 17:32) menjadi salah satu ayat yang terpendek yang ditulis dalam Alkitab, namun memiliki makna yang sangat luas untuk kita mengerti, renungkan, tentu untuk dilakukan juga. PerintahNya agar kita bukan sekedar pendengar Firman tetapi juga menjadi pelaku Firman (Yakobus 1:22).
Dalam konteks akhir zaman, Tuhan tidak menyuruh kita untuk mengingat tokoh-tokoh yang lebih positif (dibanding istri Lot) yang dituliskan dalam Alkitab, misalkan: Abraham, Musa, Daud, Samuel, Elia, Yusuf, dan lain-lain. Namun mengapa kita diperintahkan untuk mengingat istri Lot menjadi pembahasan yang sangat menarik.
Mungkin timbul dibenak kita, ketika dikatakan “Ingatlah akan istri Lot” maka yang timbul dalam pemikiran kita adalah ‘tiang garam’. Menjadi luas jika kita pahami, mengapa istri Lot menjadi tiang garam, mengapa Tuhan menghukum dia menjadi tiang garam, apakah tidak ada pengampunan kepada istri Lot, kaitannya dalam konteks akhir zaman, dan lain sebagainya.
Sebelum saya lanjutkan, pastikan Alkitab berada disamping anda, kemudian baca keseluruh perikop ini (Lukas 17:20-37), kemudian baca lagi Kejadian 18:16-33 dan Kejadian 19:1-29 supaya anda memahami dan mengerti alur ceritanya.
Apakah anda sudah selesai membacanya? Nah, saya jelaskan dibagian ‘istri Lotnya’. Tuhan mengasihi Lot, isteri dan kedua anak perempuannya sehingga Tuhan mengutus malaikat untuk menyelamatkan mereka (dari hukuman Sodom dan Gomora) dengan pesan jangan menengok ke belakang setelah keluar dari kota Sodom (Kejadian 19:17). Tetapi isteri Lot menengok ke belakang sehingga Tuhan menghukum dia menjadi tiang garam (Kejadian 19:26). Mati lenyap dalam ayat 17 = mati dengan menjadi tiang garam (ayat 26).
Mengapa Yesus mengajak kita untuk mengingat istri Lot? Pengajaran apa yang ingin Yesus sampaikan kepada kita (pembaca), supaya kita sungguh-sungguh memperhatikan sosok yang satu ini? Dalam kesempatan ini, saya akan memberikan 3 pandangan (anda bisa menambahkannya) pengajaran yang ingin Yesus sampaikan kepada kita, yaitu:
1. Jangan mengabaikan Firman Tuhan
Tuhan mengirimkan malaikatnya datang untuk menyampaikan pesan untuk meninggalkan Sodom dan Gomorah. Ada perintah dan larangan untuk tidak melihat ke belakang. Namun istri Lot menoleh ke belakang (Kejadian 19:17, 26). Ia mengabaikan Firman Tuhan. Jika saya bertanya kepada anda, kira-kira mengapa istri Lot menoleh ke belakang? Silahkan anda jawab (pasti ada beberapa alasan mengapa istri Lot menoleh ke belakang). Namun sedikit saya sampaikan, bahwa umumnya para penafsir Alkitab berpendapat bahwa istri Lot tidak rela meninggalkan segala harta bendanya, karena dia begitu mencintai segala sesuatu yang dimilikinya (Mat 6:21).
Isteri Lot merupakan simbol dari orang yang hidup di akhir zaman, yaitu orang yang sudah mendengar Firman Tuhan, tetapi berani mengabaikannya begitu saja. Sudah dengar Firman Tuhan tetapi melupakan begitu aja. Rajin beribadah, dengar Firman, tetapi tidak menjadi pelaku Firman. Dalam Injil Lukas 8:11-15 dituliskan ada 4 ciri orang yang mendengarkan Firman Tuhan. Setelah anda baca, anda ciri yang seperti apa? Silahkan anda pilih dan jabarkan sendiri.
Di akhir-akhir zaman ini, marilah kita menjadi pengikut Tuhan yang bukan sekedar percaya Tuhan (karena iblis/setan pun percaya Tuhan bahkan mereka gemetar – Yakobus 2:19), melainkan menjadi pasukan-pasukan Tuhan yang gagah perkasa yang gaya hidupnya adalah melakukan kehendak Bapa. Kelak, yang melakukan kehendakNyalah yang akan masuk ke dalam KerajaanNya.

2. Jangan menganggap remeh kebaikan/pertolongan Tuhan
Dalam Kej 19:16 dicatat bahwa keluarga Lot itu sebetulnya sudah keluar dari Sodom. Tuhan mengasihi mereka dan ingin menolong mereka. Karena mereka berlambat-lambat, malaikat Tuhan memegang tangan mereka untuk menyelamatkan mereka dari hukuman itu. Mereka mengalami apa yg namanya pertolongan Tuhan.
Isteri Lot merupakan simbol dari orang-orang yang hidup pada akhir zaman, orang yang sudah mengalami pertolongan Tuhan tetapi kemudian sama sekali tidak menganggapnya atau meremehkan begitu saja.
Izinkan saya menuliskan kesaksian saya, yang saya alami untuk menjadi berkat bagi anda dan untuk kemuliaan Tuhan. Saya adalah seorang anak pendeta (gembala) di suatu pedesaan yang hidupnya hanya bergantung kepada Tuhan (pelayanannya), tidak ada gaji tetap setiap bulan. Sementara kita ada 6 bersaudara yang harus dinafkahi. Keinginan saya untuk kuliah tidak bisa karena keadaan ekonomi yang tidak mencukupi untuk kuliah. Saya merasa ‘masa depan suram’ karena tidak bisa kuliah sementara teman-teman saya pada kuliah. Sampai akhirnya Tuhan berkehendak lain, ‘menarik’ saya masuk kuliah Teologi (walau pada saat itu, saya tidak ada gambaran untuk masuk kuliah Teologi). Tuhan tidak hanya menolong saya sampai Sarjana tetapi juga bisa kuliah sampai S-2 bahkan lulus dengan predikat Cum Laude. Jika melihat ke belakang, yang seharusnya tidak bisa kuliah karena keadaan ekonomi orang tua, datang dari desa yang tidak pernah makan 4 sehat 5 sempurna, ‘kecemburuan’ kepada teman-teman saya yang bisa kuliah pada saat itu. Pada akhirnya Tuhan menyatakan kebaikan dan pertolonganNya, dari sekian banyak teman sekolah saya (SD-SMA), sayalah yang pertama sekali yang lulus S-2. PertolonganNya tidak sampai disitu, Iapun menolong pernikahan saya dengan istri saya, mengaruniakan anak untuk kami ditengah-tengah anggapan atau vonis dokter ‘tidak bisa hamil’ bahkan anggapan ini diutarakan oleh beberapa pendeta, saudara dan kerabat. Namun Tuhan menolong kami dari kemustahilan sekalipun. Saya percaya, Tuhan pasti menolong dan pertolonganNya tidak akan pernah habis dalam kehidupan kami. Demikian juga halnya dengan anda, Tuhan juga pasti menolong anda.
Hanya, apakah kita kemudian menganggap remeh kebaikan2 atau pertolongan2 Tuhan, ketika kita mengalami goncangan atau proses hidup yang mungkin sangat berat kita alami dan tidak sesuai dengan harapan kita? Gembala Pembina terus menekankan bahwa goncangan bahkan goncangan besar akan kita hadapi, namun percayalah bahwa itu tidak akan melebihi dari kekuatan kita, dan ketika kita mengalami goncangan itu, Tuhan sudah sediakan jalan keluar yang terbaik buat kita (1 Korintus 10:13). Percayalah bahwa goncangan2 yang akan kita hadapi itu, bukan utk melemahkan dan menjatuhkan kita, melainkan menjadikan kita menjadi pribadi2 yang tangguh/kuat, menjadikan kita pasukan-pasukan Tuhan yang gagah perkasa di akhir zaman ini.

3. Jadilah pengikut Tuhan yang setia
Diakhir dari kepercayaan kita mengikut Tuhan dilihat atau diukur dari kesetiaannya kepada Tuhan. Dituntut bukan sekedar percaya, tetapi juga setia sampai akhir. Orang yang setia bukanlah orang yang berhenti ditengah jalan. Orang yang setia, bukan sekedar setia hanya pada saat ia diberkati, bahagia, tidak ada persoalan atau proses yang ia hadapi, orang yang setia adalah orang yang taat kepada Tuhan apapun situasi dan kondisinya.
‘Berkaca’ dari istri Lot, ia adalah orang yang percaya kepada Tuhan, namun bukan orang yang setia, karena ditengah jalan kehidupannya, ia melanggar perintah Allah yang membuatnya ‘mati lenyap’. Tentu kita tidak mau mati lenyap bukan? Kepercayaan kita menjadi sia-sia dikala kita mengikut Tuhan, namun berhenti ‘ditengah jalan’. Wahyu 2:10b berbunyi”…………Hendaklah engkau setia sampai mati dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan”.

Melalui pembahasan ini, yang menjadi renungan sekaligus tantangan bagi kita:
1) Apakah kita lebih mencintai dunia ini atau lebih mencintai Tuhan? Firman Tuhan mengatakan janganlah kamu mencintai dunia ini dengan segala isinya. Kita tidak boleh mencintai Tuhan tapi saat yang sama kita juga mencintai dunia ini dan segala isinya. Jika ini terjadi, maka hati kita akan bercabang dan kita tidak akan siap untuk kedatangan-Nya, karena orientasi hidup masih kepada hal-hal yang sifatnya kebendaan, itu berarti kita tidak siap kalau Yesus datang kedua kali.

2) Kita merupakan orang-orang Kristen yang hidup pada akhir zaman. Tidak lama lagi dari sekarang, Yesus akan datang segera untuk menjemput umat-umatNya yang percaya dan melakukan kehendakNya.

3) DIA sudah memperingatkan kita, bahwa sementara kita menantikan kedatangan-NYA, kita disuruh untuk mawas diri (berjaga-jaga) dan mengingat “Istri Lot.”

4) Masing-masing kita sedang diuji, apakah kita seperti istri Lot atau tidak!

Saya tutup artikel atau renungan ini dalam kalimat berikut:
Goncangan memang terasa berat dan menyakitkan pada saat kita mengalaminya, namun sesudah itu kita akan menjadi orang Kristen yang kuat dan tangguh.
Setiap orang pasti mengalami goncangan/proses. Semkain goncangan itu ‘menyakitkan’, berkat yang Tuhan sediakanpun pasti melimpah. Hanya, apakah orang tersebut tetap kuat dan setia kepada Tuhan ketika mengalami goncangan2 itu. Pilihan ada ditangan anda.
Be blessed
REHN

 

 

 

Pastor's Message

R3news

Live Streaming

Audio Streaming

 

Copyright © 2003 - 2017 - Gereja Bethel Indonesia, Modernland - All Rights Reserved

Join Our Facebook  

Visitors :