Renungan

TEKNIK BERCERITA

Dibawah ini ada beberapa tips untuk kakak-kakak Pembina anak/ guru Sekolah Minggu bagaimana memulai bercerita di Ibadah Anak / di Sekolah Minggu ( TEHNIK BEERCERITA)

Bercerita merupakan salah satu teknik untuk menyampaikan Firman Tuhan yang paling sering digunakan oleh kakak pembina Anak, terutama untuk kelas Batita, Balita dan Pratama. Walaupun untuk kelas Madya dan Tunas ( Junior Community / JC ) penyampaian Firman Tuhan sering disampaikan dalam bentuk pengajaran atau khotbah, namun idealnya semua pelayan anak harus selalu memperhatikan teknik-teknik menyampaikan Firman Tuhan secara menarik, sehingga tujuan Firman Tuhan berhasil dimengerti oleh anak-anak.

Beberapa alasan Pembina/Pelayan anak sering menggunakan teknik bercerita dibandingkan drama, diskusi atau peralatan audio visual antara lain:

  1. Lebih praktis, karena dapat dilakukan seorang diri sehingga tidak diperlukan persiapan yang rumit dibandingkan dengan menyiapkan sebuah drama.
  2. Lebih fleksibel, karena dapat dilakukan di mana saja.
  3. Lebih murah, karena tidak memerlukan alat pengajaran yang biayanya mahal.
  4. Lebih disukai anak-anak, karena cerita yang disampaikan dengan variatif dan menarik akan menjadi daya tarik bagi anak-anak untuk mendengar walaupun ceritanya merupakan pengulangan.

Walaupun tampaknya mudah, menyampaikan Firman Tuhan dengan teknik bercerita ternyata memerlukan keahlian dan ketrampilan, sama halnya seperti keahlian yang diperlukan oleh seorang pemusik, penyanyi atau penari sehingga orang lain tertarik dengan cerita kita.

Oleh karena itu seorang kakak Pembina anak harus terus menerus belajar / berlatih dengan sungguh-sungguh sehingga dapat bercerita dengan teknik yang benar.

Strategi agar berhasil menyampaikan cerita

  1. 1.      Persiapan:

Persiapan harus dilakukan beberapa kali dan beberapa hari sebelumnya. Lakukan tahap-tahap sbb:

  • Berdoa : Berdoalah minta pimpinan dan urapan Roh Kudus.
  • Membaca Bahan Pengajaran : Bacalah dan renungkan bahan pengajaran langsung dari sumbernya , yaitu Alkitab. Perhatian! Buku Pedoman hanya sebagai pelengkap atau inspirasi, dan bukan buku hafalan .
  • Penyelidikan: Selidiki tokoh-tokoh ( nama, kepribadian / karakter, bentuk badan, status sosial, pekerjaan ) , lokasi, waktu, kejadian / peristiwa, kata-kata sulit, dll.
  • Tujuan cerita : Pahami dengan sungguh-sungguh tujuan cerita sesuai usia anak. Anak-anak akan ‘dibawa’ kemana dari Firman Tuhan yang disampaikan ?
  • Membuat bagan rencana pengajaran
  • Alur cerita : Menentukan alur cerita yang menarik ( cerita pembuka, isi cerita dan penutup). Alur cerita dapat dilakukan dengan teknik sbb:
    • Dari Depan – Tengah – Akhir
    • Dari Akhir – Depan – Tengah
    • Dari Tengah – Akhir – Depan
    • Menyiapkan bahan pendukung : Siapkan alat peraga, aktivitas dan ayat hafalan yang mendukung cerita.
    • Latihan : Jika semuanya sudah siap, maka ada baiknya kakak Pembina Anak berlatih menyampaikan cerita, ekspresi wajah & suara, gerakan, menggunakan alat peraga, dsb.
  1. 2.      Ketika Bercerita:

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika tiba saatnya menyampaikan Firman Tuhan dengan teknik bercerita :

  • Berdoa: Terus minta pengurapan dan pimpinan Roh Kudus agar Tuhan memberikan hikmat pengajaran.
  • Pengaturan tempat : Tempat sudah diatur sedemikian rupa sehingga suara dan pandangan mata Pembina/pelayan dapat menguasai seluruh kelas. Pastikan juga anak-anak merasa nyaman dan memiliki pandangan jelas kepada Pembina/pelayan yang akan menyampaikan cerita.
  • Suasana : Memastikan suasana sudah memungkinkan Pembina/pelayan untuk memulai cerita. Jika diperlukan, buatlah aturan atau kesepakatan tertentu sebelum cerita disampaikan.
  • Percaya diri : Berceritalah sesuai alur cerita dengan penuh kepercayaan diri.
  • Melibatkan anak-anak : Libatkan anak-anak secara aktif agar mereka lebih antusias mendengarkan cerita.
  • Siap dengan perubahan : Selalu siap dengan perubahan yang mungkin terjadi, misalnya ada anak yang menyela atau bertanya, ada yang menangis bahkan ada anak yang berkelahi. “Selamatkan situasi” dengan berbagai cara, termasuk dengan menggunakan situasi yang sedang berkembang sebagai bahan cerita.
  1. 3.      Orang yang bercerita
  • Penampilan : Kakak Pembina harus tampak rapi, bersih, mengenakan busana yang pantas / sederhana dan nyaman sehingga dapat bergerak secara leluasa.
  • Kebiasaan-kebiasaan : Hindari kecenderungan melakukan kebiasaan-kebiasaan atau gerakan-gerakan yang dapat mengganggu. Misalnya: garuk-garuk, pandangan selalu ke atas, memainkan pulpen, dsb.
  • Pandangan mata : Selama bercerita, pandangan mata harus tertuju kepada anak-anak secara menyeluruh.
  • Gerak Tubuh : Saat bercerita, gunakan gerakan-gerakan tubuh yang disesuaikan dengan bahan cerita dan sesuai kebutuhannya.
  • Ekspresi: Dalam menyampaikan cerita, gunakan secara efektif :
    • ekspresi wajah ( takut, senang, marah, malu, benci, baik hati , mengantuk , galak, sedih, sukacita, dsb )
    • ekspresi suara ( suara laki-laki, suara wanita, suara gembira, suara keras, suara lembut, suara berbisik, suara meninggi, suara marah, dsb ).

Ekspresi wajah dan ekspresi suara harus cocok / sinkron dengan gerak tubuh.

  • Motto : Miliki motto : “ Muka Tebal Hati Suci “. Tidak perlu jaim ( jaga image ).
  • Pilihan kata dan bahasa : Pilihlah kata-kata dan bahasa yang disesuaikan dengan pemahaman anak-anak. Jika ada kata-kata atau istilah yang tidak ada padanannya
  • Penggunaan alat peraga : Kakak Pembina/pelayan harus mahir / menguasai alat-alat peraga yang digunakan ketika bercerita. Jika tidak, maka penggunaan alat peraga akan mengganggu perhatian anak-anak.
  • Buku Pedoman : Tidak diperkenankan untuk membawa Buku Pedoman selama bercerita, apalagi sering membukanya di depan anak-anak
  1. 4.      Pengembangan Diri
  • Bergaul intim dengan Tuhan : Pengalaman-pengalaman hidup bersama Tuhan akan sangat membantu Pembina/pelayan dalam menyampaikan Firman Tuhan. Karena pada dasarnya menyampaikan Firman Tuhan adalah berbagi pengalaman hidup bersama Tuhan bukan hanya sekedar memberikan pengetahuan /sejarah Alkitab, sekalipun itu dilakukan dengan teknik bercerita.
  • Tidak berhenti belajar : Seorang Kakak Pembina anak berkualitas baik ( ‘excellent’ ) harus selalu bersedia terus menerus belajar dan tanggap akan perkembangan terbaru yang berhubungan dengan Perkembangan Zaman. Belajar bisa dengan membaca buku, diklat, seminar, lewat pengalaman orang lain maupun diri sendiri, berdiskusi dengan sesama pelayan atau hamba-hamba Tuhan, memperhatikan masukan-masukan dari orang lain.
  • Rajin berlatih : Mungkin pada awalnya pelayan akan merasa canggung dalam menyampaikan cerita dengan teknik yang menarik, kecuali mereka yang memang berbakat untuk itu. Jangan pesimis! Teruslah berlatih, baik berlatih sendiri maupun berlatih dalam kelompok.

Selamat mencoba  Tuhan Yesus Memberkati

Pdp. Suratmi Trisnadi Spd K

 

 

 

Pastor's Message

R3news

Live Streaming

Audio Streaming

FEATURED SPEAKERS

SWF file not found. Please check the path.

Information

Copyright © 2014 - Gereja Bethel Indonesia, Modernland - All Rights Reserved

Join Our Facebook    

Visitors :